Artikel

Dinamika Perikanan Global 2026: Dari Pembaruan Perjanjian Internasional, Tantangan Pengolahan, hingga Penegakan Hukum IUU Fishing

Sandro Purba
• • 3 mnt baca • 9 dilihat
Dinamika Perikanan Global 2026: Dari Pembaruan Perjanjian Internasional, Tantangan Pengolahan, hingga Penegakan Hukum IUU Fishing

Foto: Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Sektor perikanan global diwarnai berbagai tantangan pada September 2026, mulai dari desakan pembaruan perjanjian UE-Mauritania, sengketa manajemen perikanan di AS, hingga penegakan hukum IUU fishing di Kanada.

Sektor perikanan tangkap global sepanjang September 2026 menghadapi sejumlah perkembangan penting. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan hasil tangkapan, tetapi juga menyentuh hubungan antarnegara, kebijakan pengelolaan wilayah pesisir, kesiapan industri pengolahan, hingga penindakan terhadap praktik penangkapan ikan ilegal.

Berbagai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi perikanan tangkap sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Kebijakan pemerintah, perubahan pergerakan stok ikan, kapasitas industri, dan penegakan aturan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan sektor perikanan.

Di Eropa dan Afrika Utara, perhatian pelaku usaha tertuju pada masa berlaku perjanjian perikanan antara Uni Eropa dan Mauritania. Dilansir World Fishing, asosiasi perikanan Uni Eropa bersama Federasi Pekerja Transportasi Eropa (ETF) meminta agar pembaruan perjanjian tersebut segera diselesaikan sebelum berakhir pada November mendatang.

Perjanjian ini memiliki arti penting bagi armada perikanan Eropa yang beroperasi di perairan Mauritania. Jika proses pembaruan kembali mengalami keterlambatan, kegiatan penangkapan ikan armada Eropa berpotensi terganggu. Dampaknya juga dapat merembet ke pasokan produk perikanan yang masuk ke pasar Eropa.

Persoalan pengelolaan perikanan juga tengah bergulir di Amerika Serikat. SeafoodSource melaporkan bahwa negara bagian North Carolina mengajukan banding terhadap putusan pengadilan sebelumnya yang menilai terdapat bukti kuat bahwa pemerintah negara bagian belum cukup melindungi ekosistem perikanan pesisir.

Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana kebijakan pengelolaan wilayah pesisir terus menjadi perhatian, terutama ketika kepentingan perikanan komersial berhadapan dengan tuntutan perlindungan ekosistem. Perdebatan mengenai bagaimana sumber daya pesisir dikelola pun masih berlangsung di tingkat pemerintahan maupun melalui jalur hukum.

Di Kanada, situasinya sedikit berbeda. Pemulihan stok Atlantic cod di wilayah Atlantik membawa peluang baru bagi industri perikanan setempat. IntraFish melaporkan bahwa stok ikan kod tersebut segera mendapatkan pengakuan melalui sertifikasi resmi, sebuah perkembangan yang disambut positif oleh pelaku industri, termasuk Icewater Seafoods yang disampaikan melalui pimpinannya, Alberto Wareham.

Namun, meningkatnya stok ikan ternyata juga menghadirkan pekerjaan rumah bagi industri pengolahan. Kapasitas dan kesiapan fasilitas pengolahan di Kanada perlu menyesuaikan diri dengan bertambahnya pasokan bahan baku. Artinya, pemulihan stok ikan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan industri apabila tidak diikuti dengan kesiapan di sepanjang rantai pasok.

Pada saat yang sama, Kanada memperketat pengawasan terhadap aktivitas penangkapan ikan ilegal. Berdasarkan laporan Undercurrent News, otoritas setempat menyita lebih dari 12.000 pon lobster yang diduga berasal dari kegiatan penangkapan tanpa izin.

Penindakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kepatuhan di sektor perikanan sekaligus melindungi stok lobster. Aktivitas penangkapan ilegal bukan hanya berpotensi mengganggu keberlanjutan sumber daya, tetapi juga menciptakan persaingan yang tidak seimbang bagi nelayan dan pelaku usaha yang menjalankan kegiatan sesuai aturan.

Sementara itu, dinamika stok ikan juga terlihat di Rusia. Undercurrent News mencatat total tangkapan perikanan Rusia pada 2026 berada di kisaran 4,7 juta ton metrik. Angka tersebut relatif stabil karena melemahnya hasil tangkapan salmon dapat diimbangi dengan meningkatnya produksi ikan haring.

Namun, stabilnya total tangkapan nasional tidak berarti seluruh komoditas mengalami kondisi yang sama. Di kawasan Pasifik, armada Rusia menghadapi penurunan hasil tangkapan ikan sarden Pasifik setelah kawanan ikan tersebut bergerak keluar dari wilayah ZEE Rusia.

Perubahan tersebut kembali menunjukkan bahwa aktivitas perikanan tangkap sangat bergantung pada pergerakan alami ikan. Ketika stok berpindah mengikuti kondisi lingkungan dan pola migrasinya, armada perikanan harus menghadapi konsekuensi langsung terhadap lokasi penangkapan dan volume hasil tangkapan.

Rangkaian perkembangan sepanjang September ini menunjukkan satu hal penting: dinamika perikanan global tidak bisa dilihat hanya dari naik atau turunnya produksi. Di balik angka tangkapan terdapat persoalan perjanjian antarnegara, kapasitas industri, perubahan ekosistem, mobilitas stok ikan, serta kepatuhan terhadap aturan.

Bagi negara-negara yang bergantung pada sektor perikanan, kemampuan membaca perubahan tersebut menjadi semakin penting. Pengelolaan stok yang berkelanjutan, kesiapan industri pengolahan, kerja sama lintas negara, dan penegakan hukum terhadap praktik IUU Fishing akan terus menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan rantai pasok perikanan global.

More News

Semua →
BursAI