Krisis Iklim dan Tantangan Keberlanjutan Guncang Sektor Akuakultur dan Perikanan Global
Foto: Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Sektor akuakultur global menghadapi tekanan berat akibat kekeringan di Eropa, gelombang panas yang mematikan jutaan ikan di Korea Selatan, hingga gugatan hukum terkait klaim keberlanjutan merek salmon di Amerika Serikat.
Jakarta, 30 September 2026 — Perubahan iklim mulai memberikan dampak nyata terhadap industri akuakultur di berbagai negara. Kekeringan dan suhu tinggi menekan kegiatan budidaya ikan air tawar di Eropa, sementara gelombang panas di Asia menyebabkan kematian jutaan ikan. Di saat yang sama, pelaku usaha makanan laut juga menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk memastikan produk mereka benar-benar memenuhi klaim keberlanjutan yang disampaikan kepada konsumen.
Di Eropa, kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi oleh pembudidaya. Laporan Eurofish menyebutkan bahwa kekeringan berkepanjangan dan suhu tinggi telah meningkatkan tekanan terhadap akuakultur air tawar. Keterbatasan air tidak hanya menyulitkan kegiatan budidaya, tetapi juga dapat memengaruhi kestabilan produksi ikan.
Upaya menghadapi kondisi tersebut mulai dilakukan melalui riset dan inovasi. Xunta de Galicia di Spanyol mengalokasikan lebih dari €680.000 untuk proyek riset akuakultur yang berfokus pada kemampuan sektor tersebut beradaptasi terhadap perubahan iklim. Pengembangan teknologi dan metode budidaya yang lebih mampu menghadapi perubahan suhu serta keterbatasan air menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan produksi.
Dampak cuaca ekstrem juga terjadi di Asia. Berdasarkan laporan IntraFish, gelombang panas yang melanda Korea Selatan menyebabkan kematian sekitar 13,5 juta ekor ikan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu yang ekstrem dapat langsung memengaruhi kegiatan budidaya dan menimbulkan kerugian bagi pembudidaya.
Persoalan industri makanan laut tidak berhenti pada perubahan iklim. Arah keberlanjutan dan rantai pasok juga menjadi perhatian utama pelaku industri global. Dalam Responsible Seafood Summit yang diselenggarakan Global Seafood Alliance (GSA), berbagai komoditas seperti pangasius, trout, ikan putih, udang, salmon, tuna, dan kerang dibahas dalam konteks keberlanjutan, rantai pasok, serta perdagangan makanan laut.
Pada saat yang sama, klaim keberlanjutan pada produk makanan laut mulai mendapat perhatian dari sisi hukum. Undercurrent News melaporkan bahwa merek salmon Mama Bear milik Australis menghadapi gugatan class action di Amerika Utara yang berkaitan dengan klaim keberlanjutan pada produknya.
Kasus tersebut menjadi gambaran bahwa informasi mengenai keberlanjutan tidak lagi hanya menjadi bagian dari strategi pemasaran. Pelaku usaha perlu memastikan bahwa klaim mengenai lingkungan, sumber produk, maupun sertifikasi yang dicantumkan pada kemasan dapat dipertanggungjawabkan.
Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri akuakultur dan makanan laut kini terjadi di dua sisi sekaligus. Di tingkat produksi, pelaku usaha perlu menghadapi perubahan kondisi lingkungan yang semakin sulit diprediksi. Sementara di pasar, mereka dituntut memenuhi standar keberlanjutan dan memberikan informasi produk yang akurat kepada konsumen.
Karena itu, penguatan riset, inovasi teknologi budidaya, pengelolaan sumber daya air, serta transparansi dalam menyampaikan informasi produk menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri makanan laut global.