Apa yang Terjadi di Pasar Seafood Global? Tarif, Ekspor, dan Tren Ritel Jadi Sorotan
Foto: Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Perdagangan makanan laut global pada akhir kuartal III 2026 menunjukkan sejumlah perubahan, mulai dari kebijakan tarif China-AS, peningkatan ekspor India, hingga pertumbuhan pasar ritel Amerika Utara.
Jakarta, 30 September 2026 — Pergerakan pasar makanan laut global sepanjang kuartal III 2026 menunjukkan kondisi yang beragam. Sejumlah komoditas mencatat kenaikan permintaan dan harga, sementara komoditas lainnya justru mengalami tekanan. Pada saat yang sama, perubahan kebijakan perdagangan dan terbukanya akses ke sejumlah pasar membuat negara produsen dan eksportir kembali menyesuaikan strategi penjualan mereka.
Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian datang dari hubungan perdagangan China dan Amerika Serikat. Menurut Undercurrent News, China menargetkan penurunan tarif produk makanan laut dalam kesepakatan perdagangan senilai USD 60 miliar dengan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arus perdagangan seafood antara kedua negara dengan mengurangi hambatan tarif bagi produk yang diperdagangkan.
Perubahan akses pasar juga terlihat dari India. SeafoodSource melaporkan ekspor makanan laut India mencapai USD 3,65 miliar pada April–Agustus 2026, naik 14,3 persen dibandingkan periode yang sama. Pengiriman ke Amerika Serikat tetap stabil, sementara eksportir India mulai memperluas penjualan ke Uni Eropa setelah mendapatkan persetujuan regulasi yang mendukung akses pasar.
Di Amerika Serikat, perkembangan lain turut membuka ruang bagi eksportir India. Sebanyak 285 perusahaan udang India dikeluarkan dari daftar peninjauan anti-dumping untuk periode 2025–2026, berdasarkan laporan Undercurrent News. Keputusan tersebut memberikan perubahan pada kondisi perdagangan udang India di pasar Amerika Utara.
Sementara perdagangan terus bergerak, harga komoditas seafood juga menunjukkan arah yang berbeda. Harga pollock H&G asal Rusia untuk pasar China meningkat seiring permintaan dan produksi filet yang lebih tinggi. Sebaliknya, harga ikan kod Atlantik H&G di pasar yang sama menurun ketika permintaan berada dalam kondisi yang lebih lemah.
Perubahan permintaan juga terasa di tingkat ritel. SeafoodSource melaporkan Coast to Coast Kitchen, perusahaan makanan laut berbasis di Boston, mencatat penjualan jutaan dolar dan memperoleh hampir 100.000 pelanggan baru untuk kategori makanan laut beku setelah produknya masuk ke jaringan Target pada awal tahun ini. Perkembangan tersebut sejalan dengan perubahan pola belanja di pasar grosir Amerika Serikat yang turut membuka peluang bagi produk seafood.
Dari sisi pasokan, produsen di Pantai Barat Amerika Serikat mendorong USDA untuk membeli 3 juta pon ikan whiting Pasifik guna membantu menyerap stok domestik dan menjaga kondisi pasar. Sementara itu, musim penangkapan ikan kod utara di dekat pantai Kanada telah mencapai sekitar 95 persen dari total panen.
Pasokan produk musiman juga terus mengikuti perubahan permintaan di berbagai negara. Makarel Norwegia tiba dalam kondisi segar di Tokyo pada 11 September melalui program Saba Nouveau, menurut Eurofish. Di pasar lain, harga salmon Chile untuk Brasil mengalami penurunan pada minggu ke-40, meskipun masih 27 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Amerika Utara juga menjadi salah satu pasar yang terus dibidik produsen salmon. Perusahaan budidaya asal Islandia, First Water, tengah memperluas penjualan di kawasan tersebut di bawah kepemimpinan CEO baru Einar Orn Ólafsson. Menurut IntraFish, sekitar sepertiga produksi salmon perusahaan saat ini telah terserap di pasar Amerika Utara.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pasar makanan laut global bergerak dengan pola yang berbeda di setiap komoditas dan kawasan. Perubahan tarif, akses pasar, harga, permintaan konsumen, hingga ketersediaan pasokan menjadi faktor yang terus memengaruhi arah perdagangan seafood sepanjang kuartal III 2026.