Dari Harga hingga Ritel, Pasar Makanan Laut Global Terus Bergerak
Foto: Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Dinamika pasar perikanan global diwarnai oleh kenaikan harga salmon Norwegia, stabilnya harga udang Ekuador, inovasi ritel di Inggris, hingga perluasan industri pengolahan di Asia Tenggara.
Pasar makanan laut global kembali menunjukkan pergerakan yang beragam. Harga sejumlah komoditas berubah mengikuti kondisi pasokan, biaya perdagangan, dan permintaan konsumen. Di saat yang sama, pelaku usaha mulai menyesuaikan strategi, mulai dari penetapan harga hingga pengembangan produk untuk menghadapi pasar yang semakin dinamis.
Perubahan Sangat terlihat pada sejumlah komoditas utama. Salmon Norwegia masih mengalami kenaikan harga di pasar spot, meski selisih harga untuk ikan berukuran besar diperkirakan mulai menyempit. Sebaliknya, harga king crab Norwegia cenderung turun, dengan kepiting betina berukuran besar menjadi salah satu jenis yang harganya masih bertahan.
Di pasar udang, kondisi juga berbeda antarwilayah. Harga udang di tingkat grosir Amerika Serikat relatif tertahan akibat ketidakpastian geopolitik. Sementara itu, udang Ekuador di pasar Eropa masih berada pada harga yang relatif stabil meski pasokannya semakin terbatas dan harus memenuhi standar kualitas yang ketat. Untuk tilapia, pedagang grosir AS mulai menaikkan harga sebagai respons terhadap meningkatnya biaya pengadaan dari Tiongkok.
Perubahan pasar kemudian mendorong pelaku usaha untuk lebih aktif menarik konsumen. Di Amerika Serikat, Maine Lobster Week pada 19–26 September dimanfaatkan restoran dan penyedia makanan laut untuk menghadirkan berbagai penawaran. Di Inggris, Waitrose menyiapkan investasi GBP 10 juta selama tiga tahun untuk memperkuat lini makanan siap saji, termasuk memperluas pilihan makanan laut premium. Tesco juga memperkenalkan rangkaian produk ikan premium di lebih dari 150 gerai di Inggris.
Peluang pertumbuhan tidak hanya datang dari pasar ritel. Meningkatnya permintaan makanan laut domestik di Asia Tenggara membuka kesempatan bagi industri pengolahan di kawasan tersebut untuk memperluas kapasitas dan mengembangkan usahanya.
Di tingkat industri global, perubahan juga terlihat dari sisi kelembagaan dan agenda internasional. Global Seafood Alliance telah menetapkan Ho Chi Minh City, Vietnam, sebagai lokasi Responsible Seafood Summit 2027. Sementara itu, National Fisheries Institute di Amerika Utara berganti nama menjadi National Seafood Association setelah proses kajian dan keterlibatan industri selama lebih dari satu tahun untuk memperkuat peran advokasinya di sepanjang rantai pasok makanan laut.
Tren konsumen juga mulai memengaruhi inovasi produk. Trans-Ocean meningkatkan kandungan protein pada produk surimi andalannya dan menggunakan label “ramah GLP-1” untuk menjangkau konsumen yang semakin memperhatikan kesehatan dan asupan nutrisi.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan di industri makanan laut tidak hanya terlihat dari harga komoditas. Pasokan, biaya perdagangan, pola konsumsi, strategi ritel, hingga inovasi produk turut membentuk arah pasar. Pelaku industri pun terus menyesuaikan diri agar produk makanan laut tetap memiliki daya saing di tengah perubahan pasar global.